”Bukan tentang bantuan, tapi tentang perhatian.”
KALIMAT ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan batin bagi kami para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang berjuang di akar rumput. Setelah kurang lebih delapan tahun Salai Produksi Tukkus berdiri dan berupaya mandiri, sebuah tonggak sejarah baru tercipta. Melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan memberikan bantuan alat produksi berupa mesin jahit dan mesin obras.
Selama bertahun-tahun, pertanyaan yang paling sering mampir dari rekan media, mahasiswa, hingga pejabat adalah: “Apa bantuan yang sudah diterima dari Pemkab?” Dahulu, saya selalu menjawab dengan kepala tegak, “Belum ada secara fisik, tapi dukungan moril sudah lebih dari cukup.” Namun hari ini, dukungan itu mewujud nyata dalam bentuk alat produksi.
IKM sebagai Tulang Punggung Ekonomi Daerah
Secara teoretis, IKM memiliki peran krusial sebagai safety net atau jaring pengaman ekonomi nasional. Dalam literatur ekonomi pembangunan, sektor usaha kecil seperti Bordir Tukkus memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi dan ketahanan yang luar biasa terhadap guncangan krisis dibandingkan korporasi besar.
Secara empiris, pertumbuhan ekonomi suatu daerah sering kali berbanding lurus dengan kesehatan IKM-nya. Ketika sebuah unit usaha kecil diberikan stimulasi berupa teknologi atau alat produksi, maka terjadi peningkatan efisiensi (output per satuan waktu). Peningkatan efisiensi inilah yang akan memicu skala produksi yang lebih besar, yang pada akhirnya berkontribusi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung Selatan.
Inovasi: Antara Tradisi dan Teknologi
Produksi tanpa inovasi adalah jalan di tempat. Di era kompetisi global, kerajinan tangan seperti Tukkus tidak hanya butuh nilai filosofis, tapi juga kualitas standar industri. Bantuan mesin jahit dan obras dari Pemkab ini bukan sekadar “tambahan aset”, melainkan instrumen untuk melakukan inovasi produk.
Inovasi dalam IKM adalah kunci untuk memenangkan pasar. Dengan alat yang lebih mumpuni, kami dapat meningkatkan presisi karya, mempercepat waktu pengerjaan, dan mengeksplorasi desain-desain baru yang lebih kompetitif tanpa meninggalkan pakem budaya. Inilah yang kita sebut sebagai pembangunan ekonomi berbasis kearifan lokal yang modern.
Sebuah Tanggung Jawab Kolektif
Saya membagikan kabar ini bukan sebagai ajang pamer, melainkan sebagai bentuk transparansi publik. Bantuan ini adalah amanah. Sebagai penerima hibah, kami kini memikul tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat Lampung Selatan. Kami memiliki kewajiban moral untuk menjadi motor penggerak ekonomi, memberikan inspirasi bagi pemuda daerah, dan membuktikan bahwa produk Lamsel mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.
Pemberian alat ini adalah bukti bahwa Pemerintah Kabupaten di bawah kepemimpinan Bupati Bapak Radityo Egi memiliki keberpihakan pada sektor riil. Kami melihat adanya visi untuk memperkuat struktur ekonomi daerah melalui penguatan kapasitas produksi di tingkat bawah.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Bupati Lampung Selatan, Bapak Radityo Egi, serta seluruh jajaran Disperindag Lampung Selatan. Dukungan ini adalah bahan bakar bagi kami untuk terbang lebih tinggi.
Semoga bantuan ini menjadi berkah, tidak hanya bagi kami di Salai Produksi Tukkus, tetapi juga bagi kemajuan industri kreatif di Lampung Selatan. Mari kita terus bergotong-royong, bersinergi, dan berinovasi demi membawa nama harum Lampung Selatan ke masa depan yang lebih gemilang. Aamiin Ya Rabbal Alamin.(*)
Tulisan ini adalah Opini Khaja Muda, penerima batuan hibah dari Disperindag Lamsel









