KALIANDAPOST.COM- Peta kekuatan politik di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) benar-benar mengalami perombakan total pasca-suksesi kepemimpinan nasional. Tak hanya di birokrasi dan parlemen, gerbong “Garuda” kini resmi menancapkan kukunya di organisasi kemanusiaan paling bergengsi. Yaitu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lampung Selatan.
Melalui mekanisme Musyawarah Kabupaten Luar Biasa (Muskablub) yang digelar di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan, Kamis (22/1/2026), elit Partai Gerindra sukses melakukan “takeover” strategis. Posisi Ketua PMI Lamsel yang sebelumnya menjadi simbol kekuatan keluarga Nanang Ermanto (Bupati petahana sebelumnya) yang juga Ketua DPC PDIP, kini berpindah tangan di bawah kendali duet maut elit Gerindra: M. Syaiful Anwar dan Erma Yusneli.
Sejarah mencatat, pada Oktober 2022 lalu, PMI Lamsel berada di bawah kendali Winarni Nanang Ermanto. Saat itu, pelantikan Winarni oleh Ketua PMI Provinsi Lampung, Riana Sari Arinal, menjadi simbol kemesraan politik antara kekuatan petahana di Lampung Selatan dengan Pemprov Lampung. Di bawah Winarni, PMI Lamsel bahkan sukses mencatatkan tinta emas dengan menjadi tuan rumah Jumbara Nasional IX tahun 2023 di GOR Way Handak—sebuah gelaran yang disebut Jusuf Kalla sebagai yang terbaik sepanjang masa.
Namun, roda waktu berputar cepat. Dinamika politik lokal yang dipicu oleh kemenangan besar Partai Gerindra di Lamsel membawa angin perubahan. Muskablub 2026 menjadi titik balik di mana kendali PMI lepas dari tangan “PDIP” ke pangkuan elit Gerindra.
Syaiful Anwar, yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati Lampung Selatan sekaligus Ketua DPC Partai Gerindra Lamsel, hadir langsung membuka Muskablub. Kehadirannya bukan sekadar sebagai pejabat pemerintah, melainkan representasi kekuatan politik baru yang sedang melakukan konsolidasi total. Tak sendirian, Erma Yusneli, Ketua DPRD Lamsel yang juga merupakan srikandi kunci Gerindra, turut membayangi suksesnya proses peralihan ini. Hingga kemudian, secara aklamasi, istri Bang Jo ini dipercaya sebagai Ketua PMI Lamsel.
Konsolidasi Berkedok Kemanusiaan
Dalam sambutannya, Wabup M. Syaiful Anwar menekankan bahwa Muskablub ini adalah momentum strategi untuk memperkuat arah organisasi. Meski dibalut dengan diksi “pelayanan masyarakat”, publik membaca ini sebagai langkah taktis Gerindra mengamankan sektor-sektor strategis yang menyentuh langsung akar rumput.
“Musyawarah ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum penting untuk evaluasi dan konsolidasi dalam menyusun arah organisasi agar semakin adaptif terhadap tantangan zaman,” tegas Syaiful Anwar.
Pernyataan Syaiful mengenai “koordinasi dan kolaboratif” antara PMI, pemerintah daerah, dan TNI menjadi sinyal kuat bahwa Gerindra ingin memastikan PMI tidak lagi menjadi “kendaraan tunggal” kelompok tertentu, melainkan harus selaras dengan garis komando kepemimpinan baru di Lampung Selatan.
Warisan Jumbara dan Standar Tinggi
Wakil Ketua PMI Provinsi Lampung, Rudy Syawal Sugiarto, yang hadir dalam Muskablub tersebut, memberikan catatan penting. Ia memberikan penghargaan tinggi kepada pengurus sebelumnya di bawah Eka Riantinawati (yang meneruskan estafet Winarni) atas kesuksesan Jumbara Nasional 2023.
“Baru kali ini penyelenggaraan Jumbara diakui langsung oleh Bapak Jusuf Kalla sebagai yang terbaik sepanjang masa. Kegiatan berjalan dengan tertib, aman, dan penuh kegembiraan,” ujar Rudy Syawal.
Pengakuan ini seolah menjadi “beban standar tinggi” bagi elit Gerindra yang kini mengambil alih. Syaiful Anwar dan Erma Yusneli ditantang untuk membuktikan bahwa di bawah kendali mereka, PMI Lamsel tidak hanya sukses secara politis, tetapi juga mampu mempertahankan profesionalisme yang telah dibangun sebelumnya.
Keterlibatan Erma Yusneli sebagai Ketua DPRD dalam pusaran suksesi PMI ini menunjukkan betapa solidnya Gerindra di Lamsel. Dengan memegang kendali di eksekutif (Wabup) dan legislatif (Ketua DPRD), keterlibatan mereka di PMI melengkapi “Trinitas Kekuatan” untuk menguasai basis massa.
PMI memiliki infrastruktur relawan yang sangat besar, mulai dari PMR di tingkat sekolah (SD, SMP, SMA), KSR di perguruan tinggi, hingga relawan SIBAT di tingkat desa. Bagi partai politik, jaringan ini adalah “tambang emas” untuk menjaga elektabilitas dan pengaruh sosial. Suksesnya elit Gerindra merebut PMI menandakan bahwa mereka tidak ingin memberikan celah sedikit pun bagi kekuatan lama untuk bangkit melalui jalur organisasi kemanusiaan.
Tantangan Netralitas dan Politik 2026
Meski Rudy Syawal mengingatkan agar PMI senantiasa berpegang teguh pada prinsip kenetralan, sulit bagi publik untuk tidak mengaitkan perombakan ini dengan kepentingan politik jangka panjang. Penguasaan PMI oleh elit partai pemenang di Lamsel membawa risiko tergerusnya independensi organisasi.
Syaiful Anwar sendiri berupaya menepis anggapan tersebut dengan menekankan pentingnya manajemen organisasi yang profesional dan penyediaan pelayanan darah yang aman. Namun, dengan duduknya tokoh-tokoh kunci Gerindra di posisi penentu, arah kebijakan PMI Lamsel dipastikan akan lebih banyak “mewarnai” kebijakan pemerintah daerah yang kini juga dipimpin oleh kader Gerindra.
Muskablub 2026 telah usai. Hasilnya jelas: Gerindra telah menang mutlak. Kini, masyarakat Lampung Selatan menunggu aksi nyata. Apakah PMI di tangan Syaiful Anwar dan dukungan Erma Yusneli akan tetap menjadi organisasi yang “suci” dari kepentingan pragmatis, atau justru menjadi alat baru bagi elit Gerindra untuk semakin mengakar di bumi Khagom Mufakat?
Satu hal yang pasti, pelantikan Winarni Nanang Ermanto di tahun 2022 kini hanya menjadi catatan sejarah. Hari ini, bendera Garuda terbang lebih tinggi, bahkan di atas tiang bendera PMI Lampung Selatan. (*)









