Menengok Makam Ratu Darah Putih di Penengahan

Dituturkan turun-temurun, di daerah ini ada jejak cahaya Sunan Gunung Djati dan cikal bakal Pahlawan Lampung yang tersambung dengan Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Aceh.

- Jurnalis

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KALIANDAPOST.COM Di kaki Gunung Rajabasa yang megah, tepatnya di Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, bersemayam sebuah sejarah besar yang menjadi pilar identitas masyarakat Lampung.

Di sana, di Kompleks Keramat, jika dari arah Bandar Lampung masuk ke arah kiri dari jalan Trans Sumatera, melalui Dusun Banyuhurip, melewati lintasan terowongan jalan tol itu, setelah masjid, di pinggiran Way Pisang, terdapat makam Ratu Darah Putih. Sosok legendaris yang tidak hanya membawa syiar Islam, tetapi juga menjadi nenek moyang dari pahlawan nasional kebanggaan Lampung, Raden Intan II.

Cahaya dari Keratuan Pugung

Menelusuri sejarah Ratu Darah Putih berarti kembali ke abad XV, saat Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah) masih memimpin Kesultanan Cirebon. Alkisah, sang Sultan melihat pancaran cahaya misterius yang tegak menembus langit dari arah barat. Cahaya itu menuntunnya menyeberangi selat menuju Keratuan Pugung di Lampung Timur.

Di sana, Sunan Gunung Djati terpikat oleh Putri Sinar Alam. Namun, adat Keratuan Pugung yang ketat sempat menghalangi pinangan tersebut. Sang Sultan akhirnya menikahi putri kedua Ratu Pugung dan dikaruniai putra bernama Minak Gejala Bidin.

Setahun kemudian, restu akhirnya didapat untuk menikahi Putri Sinar Alam, yang kemudian melahirkan seorang putra bernama Minak Gejala Ratu.

Baca Juga :  Warga Mulai Tagih Janji Bangun Masjid Agung Bangunrejo

Pembuktian Darah Putih

Kisah dramatis dimulai saat Minak Gejala Ratu dewasa dan menyusul ayahnya ke Cirebon. Karena sebuah kesalahpahaman di perjalanan dengan kakaknya, ia tiba lebih lambat di Cirebon. Sang ayah, Sunan Gunung Djati, awalnya meragukan identitasnya karena sang kakak telah lebih dulu tiba.

Sebuah ujian suci diberikan: “Jika kamu benar anakku, maka darahmu akan berwarna putih.”

Dengan keyakinan penuh, Minak Gejala Ratu menorehkan padi di keningnya. Keajaiban terjadi; cairan putih mengalir, membuktikan kesucian nasabnya. Sejak saat itu, ia diberi gelar Muhammad Aji Saka.

Peti Ajaib dan Berdirinya Keratuan

Sebelum kembali ke Lampung, Sunan Gunung Djati membekali putranya sebuah peti kecil dengan pesan: “Bukalah di mana hatimu merasa pas.”

Setelah berlayar menyusuri pesisir Lampung Selatan, Muhammad Aji Saka merasa hatinya tertambat di wilayah Penengahan. Tepatnya di Desa Kahuripan.

Saat peti dibuka, peristiwa luar biasa terjadi. Isinya beterbangan dan mewujud menjadi pasukan yang gagah berani serta setia. Di sanalah, pada abad ke-15, didirikan Keratuan Darah Putih, sebuah pemerintahan yang menganut ajaran Islam dan menjadi benteng pertahanan di ujung selatan Pulau Sumatera.

Baca Juga :  Bupati Egi Paparkan Agroeduwisata di Desa Trimomukti

Warisan Sang Pahlawan

Saat ini, makam Ratu Darah Putih di Kahuripan, menjadi destinasi wisata religi yang sakral. Ratu Darah Putih dimakamkan berdampingan dengan istrinya, Putri Tun Penatih, yang merupakan putri dari Sultan Aceh. Keberadaan makam ini menjadi bukti sejarah hubungan diplomatik dan kekerabatan yang erat antara Lampung, Cirebon, dan Aceh di masa lampau.

Suasana di kompleks makam terasa sangat tenang dan sarat akan aura kewibawaan. Struktur makam yang terjaga menunjukkan betapa masyarakat sangat menghormati sosok ini. Keratuan Darah Putih bukan sekadar nama, melainkan simbol kemurnian hati dan perjuangan.

Penting bagi generasi muda untuk mengetahui bahwa dari garis keturunan Ratu Darah Putih inilah lahir Raden Intan II. Semangat kemandirian yang ditunjukkan Muhammad Aji Saka saat mendirikan Keratuan dengan “pasukan dari peti” seolah menurun kepada cucu-cicitnya yang gigih melawan kolonialisme Belanda.

Mengunjungi makam Ratu Darah Putih di Penengahan bukan sekadar melihat nisan batu, melainkan upaya “menjemput” kembali nilai-nilai kejujuran, pembuktian diri, dan ketaatan pada sang pencipta. Di bawah naungan rerimbun pepohonan, sejarah Lampung Selatan tetap hidup, menceritakan kembali kisah cahaya yang menembus langit beratus tahun silam. (*)

Berita Terkait

12 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas Lamsel Dilantik
Bupati Egi Paparkan Agroeduwisata di Desa Trimomukti
Gelar Lomba Desa Helau Berhadian Infrastruktur
Cik Tien Oleh-oleh Lampung Resmi Dibuka di Kalianda
Warga Mulai Tagih Janji Bangun Masjid Agung Bangunrejo
Sensasi Double Shot Kopi Asix dan Spot Sunset di Kalianda
Simbolisme Dermaga BOM, Bupati Egi Menegaskan Kepemimpinan Bukan Tentang Jarak
Menikmati Liburan di Minang Rua Lamsel

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 17:42 WIB

12 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas Lamsel Dilantik

Senin, 16 Februari 2026 - 20:52 WIB

Bupati Egi Paparkan Agroeduwisata di Desa Trimomukti

Kamis, 12 Februari 2026 - 08:16 WIB

Gelar Lomba Desa Helau Berhadian Infrastruktur

Senin, 26 Januari 2026 - 12:09 WIB

Warga Mulai Tagih Janji Bangun Masjid Agung Bangunrejo

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:31 WIB

Menengok Makam Ratu Darah Putih di Penengahan

Berita Terbaru

Pemerintahan

12 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas Lamsel Dilantik

Rabu, 15 Apr 2026 - 17:42 WIB

Pemerintahan

Setahun Memimpin Lamsel Egi-Syaiful Didemo Mahasiswa

Selasa, 24 Feb 2026 - 11:14 WIB

Ekonomi dan UMKM

Bupati Egi Paparkan Agroeduwisata di Desa Trimomukti

Senin, 16 Feb 2026 - 20:52 WIB

Daerah

Gelar Lomba Desa Helau Berhadian Infrastruktur

Kamis, 12 Feb 2026 - 08:16 WIB