KALIANDAPOST.COM – Di kaki Gunung Rajabasa yang megah, tepatnya di Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, bersemayam sebuah sejarah besar yang menjadi pilar identitas masyarakat Lampung.
Di sana, di Kompleks Keramat, jika dari arah Bandar Lampung masuk ke arah kiri dari jalan Trans Sumatera, melalui Dusun Banyuhurip, melewati lintasan terowongan jalan tol itu, setelah masjid, di pinggiran Way Pisang, terdapat makam Ratu Darah Putih. Sosok legendaris yang tidak hanya membawa syiar Islam, tetapi juga menjadi nenek moyang dari pahlawan nasional kebanggaan Lampung, Raden Intan II.
Cahaya dari Keratuan Pugung
Menelusuri sejarah Ratu Darah Putih berarti kembali ke abad XV, saat Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah) masih memimpin Kesultanan Cirebon. Alkisah, sang Sultan melihat pancaran cahaya misterius yang tegak menembus langit dari arah barat. Cahaya itu menuntunnya menyeberangi selat menuju Keratuan Pugung di Lampung Timur.
Di sana, Sunan Gunung Djati terpikat oleh Putri Sinar Alam. Namun, adat Keratuan Pugung yang ketat sempat menghalangi pinangan tersebut. Sang Sultan akhirnya menikahi putri kedua Ratu Pugung dan dikaruniai putra bernama Minak Gejala Bidin.
Setahun kemudian, restu akhirnya didapat untuk menikahi Putri Sinar Alam, yang kemudian melahirkan seorang putra bernama Minak Gejala Ratu.
Pembuktian Darah Putih
Kisah dramatis dimulai saat Minak Gejala Ratu dewasa dan menyusul ayahnya ke Cirebon. Karena sebuah kesalahpahaman di perjalanan dengan kakaknya, ia tiba lebih lambat di Cirebon. Sang ayah, Sunan Gunung Djati, awalnya meragukan identitasnya karena sang kakak telah lebih dulu tiba.
Sebuah ujian suci diberikan: “Jika kamu benar anakku, maka darahmu akan berwarna putih.”
Dengan keyakinan penuh, Minak Gejala Ratu menorehkan padi di keningnya. Keajaiban terjadi; cairan putih mengalir, membuktikan kesucian nasabnya. Sejak saat itu, ia diberi gelar Muhammad Aji Saka.
Peti Ajaib dan Berdirinya Keratuan
Sebelum kembali ke Lampung, Sunan Gunung Djati membekali putranya sebuah peti kecil dengan pesan: “Bukalah di mana hatimu merasa pas.”
Setelah berlayar menyusuri pesisir Lampung Selatan, Muhammad Aji Saka merasa hatinya tertambat di wilayah Penengahan. Tepatnya di Desa Kahuripan.
Saat peti dibuka, peristiwa luar biasa terjadi. Isinya beterbangan dan mewujud menjadi pasukan yang gagah berani serta setia. Di sanalah, pada abad ke-15, didirikan Keratuan Darah Putih, sebuah pemerintahan yang menganut ajaran Islam dan menjadi benteng pertahanan di ujung selatan Pulau Sumatera.
Warisan Sang Pahlawan
Saat ini, makam Ratu Darah Putih di Kahuripan, menjadi destinasi wisata religi yang sakral. Ratu Darah Putih dimakamkan berdampingan dengan istrinya, Putri Tun Penatih, yang merupakan putri dari Sultan Aceh. Keberadaan makam ini menjadi bukti sejarah hubungan diplomatik dan kekerabatan yang erat antara Lampung, Cirebon, dan Aceh di masa lampau.
Suasana di kompleks makam terasa sangat tenang dan sarat akan aura kewibawaan. Struktur makam yang terjaga menunjukkan betapa masyarakat sangat menghormati sosok ini. Keratuan Darah Putih bukan sekadar nama, melainkan simbol kemurnian hati dan perjuangan.
Penting bagi generasi muda untuk mengetahui bahwa dari garis keturunan Ratu Darah Putih inilah lahir Raden Intan II. Semangat kemandirian yang ditunjukkan Muhammad Aji Saka saat mendirikan Keratuan dengan “pasukan dari peti” seolah menurun kepada cucu-cicitnya yang gigih melawan kolonialisme Belanda.
Mengunjungi makam Ratu Darah Putih di Penengahan bukan sekadar melihat nisan batu, melainkan upaya “menjemput” kembali nilai-nilai kejujuran, pembuktian diri, dan ketaatan pada sang pencipta. Di bawah naungan rerimbun pepohonan, sejarah Lampung Selatan tetap hidup, menceritakan kembali kisah cahaya yang menembus langit beratus tahun silam. (*)









