NATAR, KALIANDA POST – Sebuah ironi memilukan tersaji di penghujung tahun 2025. Di tengah kabar Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang sibuk membangun citra kepedulian di luar daerah hingga ke Aceh lewat berbagai agenda organisasinya, “halaman rumahnya” sendiri justru terendam. Ribuan warga di Kecamatan Natar harus berjibaku dengan lumpur dan air setelah banjir melanda kawasan tersebut sejak Kamis (25/12/2025) malam.
Flyover Natar Lumpuh, 15 Rumah Terendam Permukiman
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak malam Natal tersebut menyisakan duka bagi warga di bawah flyover Natar. Air meluap hingga mencapai ketinggian satu meter, merendam sedikitnya 15 rumah warga. Banjir ini bukan sekadar bencana alam, melainkan cermin buruknya tata kelola infrastruktur di gerbang utara Lampung Selatan.
Berdasarkan rilis resmi Diskominfo Lamsel, banjir dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan buruknya sistem drainase. Ironisnya, faktor penyebab banjir adalah masalah klasik yang seolah dibiarkan: gorong-gorong yang kekecilan, sumbatan sampah, hingga pendangkalan sungai.
Instruksi Jarak Jauh: Bupati di Mana?
Kepala Dinas Kominfo Lampung Selatan, Anasrullah, menyatakan bahwa pemerintah daerah merespons cepat “atas instruksi Bupati Radityo Egi Pratama”. Namun, pernyataan ini justru memicu tanya di tengah masyarakat: Di mana fisik sang Bupati saat rakyatnya kebanjiran?

Sumber Kalianda Post menyebutkan bahwa saat bencana terjadi, kehadiran fisik sang pimpinan daerah kembali tidak terlihat di lokasi. “Instruksi” yang disampaikan pejabat daerah tampaknya dikirim dari balik layar smartphone, sementara rakyat Natar membutuhkan kehadiran sosok pemimpin yang berani terjun langsung meninjau drainase yang mampet, bukan sekadar mengirim bantuan sembako setelah air masuk ke rumah.
Infrastruktur “Sekali Pakai” dan Masalah Klasik
Hasil pantauan di lokasi menunjukkan bahwa banjir di bawah flyover Natar dipicu oleh ukuran gorong-gorong yang tidak memadai. Hal ini sejalan dengan kritik publik sepanjang 2025 mengenai kualitas proyek infrastruktur di Lampung Selatan yang dinilai hanya mengejar seremoni papan proyek tanpa memperhatikan ketahanan dan fungsi jangka panjang.
“Pemerintah baru sibuk saat air sudah naik. Padahal masalah gorong-gorong dan bangunan liar ini sudah bertahun-tahun dilaporkan. Kita butuh solusi permanen, bukan sekadar selimut dan mie instan,” keluh salah satu warga terdampak yang enggan disebutkan namanya.
Nasib Warga di Tengah Defisit Anggaran
Tim BPBD dan Dinas Sosial memang telah menerjunkan bantuan logistik. Namun, dengan kondisi APBD yang sedang defisit kronis, upaya normalisasi sungai dan perbaikan gorong-gorong permanen di Natar dikhawatirkan hanya akan menjadi janji manis di notulen rapat.
Masyarakat kini hanya bisa pasrah dan waspada mandiri. Sementara itu, narasi kepedulian Bupati di media sosial terus berjalan, kontras dengan realitas warga Natar yang masih harus menguras air dari dalam rumah mereka.
Tahun 2025 ditutup dengan pelajaran pahit bagi warga Lampung Selatan: Bahwa bantuan jauh (Aceh) memang penting untuk citra, tapi drainase di depan mata adalah soal nyawa dan harga diri warga sendiri.









