Dibalik Seremoni Penyerahan 17 Alat IKM

Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Lampung Selatan mendapat bantuan peralatan, beberapa penerima sumbangan enggan menjawab detail cara mendapatkan bantuannya.

- Jurnalis

Senin, 29 Desember 2025 - 15:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KALIANDA, KALIANDA POST – Di penghujung tahun 2025, Aula Dekranasda Lampung Selatan menjadi saksi seremoni penyaluran bantuan hibah mesin produksi bagi 17 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), Senin (29/12/2025). Namun, di balik senyum para penerima manfaat, terselip narasi besar tentang “pemerintahan titipan” dan kondisi dapur daerah yang sedang tidak baik-baik saja.

Bupati Lagi-Lagi Absen, Staf Ahli Jadi “Bemper”

Meski acara ini diklaim sebagai wujud nyata kehadiran pemerintah, sosok Bupati Radityo Egi Pratama kembali tidak menampakkan batang hidungnya. Bupati yang juga menjabat sebagai Ketua Umum HIPMI Jawa Barat tersebut memilih untuk mewakilkan kehadirannya kepada Staf Ahli Bidang Keuangan, Achmad Herry.

Ketidakhadiran Bupati di momen-momen krusial akhir tahun ini memperkuat catatan kritis publik mengenai gaya kepemimpinan absentee (absen). Achmad Herry, saat membacakan sambutan bupati, menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Namun, publik bertanya-tanya: mungkinkah pemerintah benar-benar hadir jika sang nakhoda lebih betah di Jakarta atau Bandung ketimbang di Kalianda?

Menunggu Delapan Tahun di Tengah Defisit APBD

Salah satu momen mengharukan sekaligus ironis muncul dari pengakuan Khaja Muda Sai Saka, pelaku IKM asal Desa Kuripan. Ia mengaku harus menunggu selama delapan tahun hanya untuk mendapatkan bantuan peralatan produksi. Penantian panjang ini menjadi bukti betapa lambatnya birokrasi merespons kebutuhan akar rumput di tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Melihat Dominasi Sekda Supriyanto Ketika Meresmikan Kampung Nelayan

Namun, di sisi lain, penyaluran hibah barang ini memicu pertanyaan mengenai skala prioritas anggaran. Di tengah laporan APBD Lampung Selatan 2025 yang mengalami defisit mengkhawatirkan dan PAD yang mati suri, Pemkab justru jor-joran dalam program hibah yang bersifat seremoni.

“Kami mendukung ekonomi kerakyatan, tapi jangan sampai bantuan mesin jahit dan oven ini hanya jadi ‘lipstik’ untuk menutupi borok fiskal daerah yang sedang berdarah-darah,” ungkap Syafei, dosen STAI sekaligus seorang pengamat kebijakan publik lokal kepada Kalianda Post.

Bantuan Barang vs Kemandirian Ekonomi

Kepala Bidang Perindustrian, Ahmadin, merinci bantuan berupa mesin jahit, obras, hingga mesin spinner. Tujuannya mulia: meningkatkan produktivitas. Namun, tanpa pendampingan pasar dan iklim usaha yang kondusif—terutama dengan infrastruktur jalan yang hancur di berbagai kecamatan—alat-alat canggih ini dikhawatirkan hanya akan menjadi pajangan di rumah warga.

Bagaimana IKM bisa bersaing jika biaya logistik mahal akibat jalan yang rusak lebih cepat dari baliho bupati? Bagaimana ekonomi bisa bangkit jika pimpinannya lebih sibuk mengurus organisasi di luar daerah daripada duduk di kantor untuk memikirkan inovasi PAD?

Baca Juga :  Gelar Lomba Desa Helau Berhadian Infrastruktur

Catatan Akhir Tahun: Ekonomi Gincu

Refleksi akhir tahun 2025 Lampung Selatan menunjukkan pola yang konsisten: Pemerintah sangat gemar dengan kegiatan bagi-bagi barang yang bisa difoto dan diunggah ke media sosial dengan narasi “Peduli Rakyat”. Namun, mereka tampak gagap dalam menangani masalah struktural seperti banjir di Natar yang tak kunjung usai, jalan raya yang menyerupai kubangan, hingga defisit anggaran yang membayangi gaji pegawai di tahun 2026.

Seremoni di Aula Dekranasda ini adalah penutup tahun yang cantik secara visual, namun rapuh secara substansi. Lampung Selatan tidak butuh pemimpin yang hanya hadir lewat “staf ahli” dan mesin jahit, ia butuh pemimpin yang ada di kantor, menetap di rumah dinas, dan berani membereskan dapur daerah yang sedang berantakan.(*)


Tim Liputan Eksklusif Kalianda Post Penanggung Jawab: Agus Setiawan Responden: Biro Kalianda & Penengahan PT Kalianda Media Digital

Berita Terkait

12 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas Lamsel Dilantik
Setahun Memimpin Lamsel Egi-Syaiful Didemo Mahasiswa
Bupati Egi Paparkan Agroeduwisata di Desa Trimomukti
Cik Tien Oleh-oleh Lampung Resmi Dibuka di Kalianda
Pelantikan Pejabat di Terminal Pasar Impres Kalianda
MPP Kalianda Terkesan Mempersulit Warga
Miftahul Bahri Sang Politikus Tiga Zaman dengan Tiga Parpol
Delapan Desa Gabung Kota, Pemkab Lamsel Hanya Bengong

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 17:42 WIB

12 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas Lamsel Dilantik

Selasa, 24 Februari 2026 - 11:14 WIB

Setahun Memimpin Lamsel Egi-Syaiful Didemo Mahasiswa

Senin, 16 Februari 2026 - 20:52 WIB

Bupati Egi Paparkan Agroeduwisata di Desa Trimomukti

Rabu, 11 Februari 2026 - 16:01 WIB

Cik Tien Oleh-oleh Lampung Resmi Dibuka di Kalianda

Rabu, 4 Februari 2026 - 12:40 WIB

Pelantikan Pejabat di Terminal Pasar Impres Kalianda

Berita Terbaru

Nasional

Seolah Sengaja Ciptakan Manager Kopdes yang Ngang-ngong

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:49 WIB

Pemilik, dokter, dan staf di Klinik Kalianda Sehat ketika pose bersama. Ist/KaliandaPost

Hukum dan Kriminal

Ada Dugaan Malpraktik di Klinik Kalianda Sehat

Selasa, 28 Apr 2026 - 22:27 WIB

Pemerintahan

12 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas Lamsel Dilantik

Rabu, 15 Apr 2026 - 17:42 WIB

Pemerintahan

Setahun Memimpin Lamsel Egi-Syaiful Didemo Mahasiswa

Selasa, 24 Feb 2026 - 11:14 WIB

Ekonomi dan UMKM

Bupati Egi Paparkan Agroeduwisata di Desa Trimomukti

Senin, 16 Feb 2026 - 20:52 WIB