Seolah Sengaja Ciptakan Manager Kopdes yang Ngang-ngong

jangan kaget kalau Kopdes bisa ada di tengah sawah, di tengah hutan, di samping jurang, bahkan di kuburan. Jangankan manajernya, penggagas programnya aja juga "ngang-ngong" nggak ngerti positioning store yang strategis.

- Jurnalis

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KALIANDAPOST.COM- Pembekalan manajer Kopdes itu harusnya training manajerial, logistik, supply chain, stocktaking, inventory management, compliance, risk, crisis management, dll.

Pelatihan militer itu tidak melatih kepemimpinan, tapi melatih kepatuhan pada pemimpin. Karena di militer tidak boleh kritis. Harus patuh terhadap komando. Kedisiplinan, ketelitian, kerapian dan kemandirian itu tidak hanya dibangun di dunia militer, tapi itu menjadi basic skill untuk semua orang.

Yang diharapkan dari jebolan SDM yang berasal dari manajer Kopdes itu adalah skill manajerial, bukan skill baris berbaris. Bukan skill merapikan tempat tidur di asrama, apalagi skill berpakaian rapi.

Makanya, itu yang duduk di lingkaran kekuasaan istana jangan cuma membual doang dan bikin program ABS. Sesekali riset, panggil para pakar dan praktisi. Minta strategi taktisnya.

Itu kemarin saat saya melakukan riset lapangan dan ikut seleksi manajer Kopdes. Rata-rata yang ikut seleksi berusia 21 sampai 25 tahun. Sama kayak seleksi Kepala SPPG. Umur segitu rata-rata masih belum punya pengalaman di level manajerial. Tapi demi kepentingan politik, malah dipaksa jadi manajer.

Sedangkan fungsi manajer itu bukan cuma memimpin, tapi juga harus jadi problem solver. Punya strategic thinking. Punya risk management yang kuat. Menjadi inti dari segala informasi dan strategi di lapangan.

Coba itu jika saya sebagai praktisi HR tarik random calon manajer Kopdes untuk saya interview, lalu saya tanya begini:

“Jelaskan ilmu Planogram yang Anda ketahui”

“Berikan SOP untuk staf Merchandiser”

“Gimana cara balancing stok yang minus?”

“Gimana cara mengatur stok berdasarkan FIFO dan FEFO?”

“Jelaskan strategi stock avalaibility ketika demand tinggi namun supply kurang”

“Apa product planning yang akan Anda sajikan mulai dari entrance hingga exit gate?”

“Bagaimana sistem staf shifting agar tugas yang diberikan bisa tetap inline?”

“Jelaskan store, field, dan post activity mulai dari buka hingga tutup toko”

Kira-kira pada bisa menjawab secara substantif tanpa harus buka Google atau ChatGPT nggak? Padahal itu ilmu basic di dunia manajer ritel. Kalau manajernya aja “ngang-ngong” saat ditanya begituan, apa lagi anak buahnya nanti. Makanya jangan kaget kalau Kopdes bisa ada di tengah sawah, di tengah hutan, di samping jurang, bahkan di kuburan. Jangankan manajernya, penggagas programnya aja juga “ngang-ngong” nggak ngerti positioning store yang strategis kayak Alfamart dan Indomaret.

Itulah kenapa susunan produk di rak Kopdes cuma kelihatan rapi, tapi nggak terlihat strategis. 1 SKU tapi dijejerin memanjang ke samping, bukan ke belakang (Ya, selain dari masalah stok sedikit, rak bejibun). Babinsa (militer) ikut membantu menyusun. Memangnya mereka bisa apa selain perang?

Kira-kira mereka para manajer Kopdes itu tahu nggak ya kalau ilmu planogram itu penting di dunia ritel?

Saya yakin betul, hampir 100% Anda yang membaca tulisan ini pasti pernah masuk ke supermarket seperti Carrefour, Hypermart, Transmart, Lion Superindo, Naga Swalayan, Fresh Market, Griya, Borma, dll. Atau paling nggak, minimarket seperti Alfamart dan Indomaret deh…

Baca Juga :  Menyaring Amanat di Balik Absennya Sang Bupati: Refleksi 2025 di Lapangan Korpri

Apa yang beda dari Kopdes selain stock availability?

Ya, planogramnya. Saat kita masuk ke supermarket, pernah merasa nggak, kalau produk-produk yang tadinya kita nggak merasa butuh tiba-tiba menjadi butuh? Dan produk yang harusnya kita wishlist malah sengaja diletakkan jauh dari jangkauan?

Karena secara psikologis, kita dipaksa keliling-keliling dulu muterin seluruh rak buat menemukan produk yang kita cari. Sehingga nantinya kita jadi laper mata.

Memangnya Anda kira itu tidak disengaja? Tentu itu bagian dari strategi. Itu namanya strategi planogram supaya bikin customer jadi lebih impulsif dan konsumtif ketika masuk supermarket. Dari semula cuma mau beli minyak goreng doang, malah jadi merembet beli ini-itu. Bahkan saat sampai di antrean kasir pun kita masih tergoda lihat-lihat produk di dekatnya dan secara nggak sadar ngambil produk tersebut masukin ke keranjang sebelum sampai di meja kasir.

Bahkan jika kita perhatikan secara detail, ketika kita baru memasuki ke sebuah supermarket besar itu langsung disuguhi puluhan sign board di atas rak yang clear visible sight dan eye-level supaya bikin kita jadi: “Eh, lagi diskon tuh. Coba ke rak sana ah!”

Itu namanya POSM (Point of Sales Marketing).

Bisa berupa sign board, X-Banner, desain troli, brosur atau aksesori gimik.

Ilmu planogram itu penting di dunia ritel. Dan manajer ritel harus menguasai itu. Di situ mengatur strategi penempatan produk mana saja yang sebaiknya di-list di area entrance gate. Di list agak jauh dari entrance gate, bahkan sampai di list di dekat exit gate. Lebih ekstremnya lagi, mana produk yang harus ditaruh di rak yang sejajar dengan eye level pandangan mata kita, dan mana produk yang sengaja ditaruh paling bawah rak. Itu semua ada flow customer journey-nya, mulai dari customer masuk hingga customer keluar. Nggak asal-asalan menaruh produk di rak, yang penting rapi.

Memangnya Anda kira produk yang ditaruh sejajar eye level dengan mata kita itu produk yang paling laku dibeli? Salah. Justru yang ditaruh di situ adalah produk yang jarang dibeli atau yang expired date-nya sudah mendekati. Yang laku justru ditaruh paling bawah, bahkan disembunyikan. Makanya, terkadang kita suka kesulitan mencari produk yang kita inginkan dan akhirnya memilih memanggil kru store buat bantu carikan. Karena kalau produknya laku, mau disembunyikan kayak gimana pun juga pasti bakal tetap dicari oleh konsumen.

Itulah kenapa Aqua selalu ditaruh, kenapa Pepsodent selalu ada di rak paling bawah. Yang rak sejajar sama pandangan mata kita biasanya merk-merk pasta gigi yang asing bagi kita. Itulah kenapa Aqua selalu ditaruh paling bawah dalam chiller. Itulah kenapa alat kontrasepsi dan obat-obatan selalu ada di dekat kasir. Karena supaya menjaga privasi konsumen, agar barangnya langsung di-stockout kasir tanpa perlu dimasukkan ke dalam keranjang terlebih dahulu. Semua ada ilmunya. Bukan sembarang produk yang ditaruh di rak.

Baca Juga :  Hiburan OT sampai Larut Malam Bisa Dipidana

Nah, pertanyaan saya: Apakah calon manajer Kopdes punya pengetahuan itu? Saya rasa tidak. Sekalipun sudah diberikan pelatihan ilmu manajemen. Karena ilmu ini hanya bisa didapatkan melalui jam terbang. Dan posisi manajerial ini nggak bisa ditempatkan oleh orang yang baru mau belajar. Kalau mau belajar ya jadi staf dulu, kemudian naik jadi officer, lalu supervisor, barulah ke manajer. Ada jenjang kariernya.

Dulu saat saya menjadi Regional Manager di produk ritel PZ Cussons, ilmu-ilmu kayak gini sampai gumoh saya pelajari dan praktikkan di lapangan. Keluar masuk supermarket bukan belanja, tapi cuma buat cari insight kenapa produk yang saya jual di situ kurang diminati pembeli. Bahkan ketika produk yang saya jual laku keras pun, saya juga harus bisa menjelaskan “Kenapa bisa laku keras?” Apakah karena faktor promo? Apakah karena ada reseller atau memang demand-nya yang beneran tinggi? Jadi bukan hanya menjawab masalah kenapa produk sepi pembeli, tapi juga harus bisa menjawab pertanyaan kenapa produk ramai pembeli oleh seorang manajer. Bahkan saya juga harus mempelajari competitor activity.

Saya sampai tahu betul waralaba ritel mana yang masuk ke dalam segmen kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas. Gampang saja cari insight-nya. Nggak perlu melihat perilaku customer pada saat membeli produk apa saja yang mereka masukkan ke dalam troli. Tapi lihat tempat parkir di supermarket itu, lebih banyak mana, customer yang membawa mobil atau motor? Disekeliling supermarket itu masuk di kawasan mana? Pemukiman, komplek, atau kawasan niaga? Di hari itu cuacanya bagaimana? Dari situ saya langsung bisa mengarakterisasi customer di supermarket itu masuknya ke segmen apa, lalu bikin strategi pemasarannya untuk dieksekusi oleh 150 SPG dan 15 supervisor saya yang tersebar dari ujung Aceh hingga ujung Jawa Barat pada saat itu.

Itulah yang dinamakan ilmu manajerial, khususnya di bidang ritel. Karena semua staf pasti akan bertanya: “Ini gimana, Pak?” Dan Anda sebagai seorang manajer harus bisa menjawab dari A sampai Z secara taktis, sistematis, presisi, dan berbasis data statistik. Karena mereka staf yang ada di lapangan, tugas mereka hanya sebagai eksekutor. Mereka hanya mendata. Sedangkan manajer yang mengolah data, mencari insight dan merancang strategi.

Nah, setelah saya kasih gambaran dan penjabaran seruwet apa ilmu manajerial di bidang ritel yang saya tuangkan berdasarkan pengalaman saya berkarier di bidang manajer ritel dulu, Anda sudah bisa mengukur sendiri, kan, bahwa pelatihan barak militer untuk para calon manajer Kopdes itu “Jaka sembung bawa golok”. (red)

Opini ini ditulis oleh Cakra Adi Negara dan diposting di akun FB-nya

Berita Terkait

PDIP Tega Menumbalkan dan Jebak Kadernya Sendiri
Pelantikan Pejabat di Terminal Pasar Impres Kalianda
Melihat Dominasi Sekda Supriyanto Ketika Meresmikan Kampung Nelayan
Edwin Apriandi Terpilih Aklamasi Nakhodai PWI Lamsel Periode 2026–2029
Menakar “Tangan Dingin” Pejabat Baru dalam Mengejar Target PAD Lamsel 2026
Libur Nataru, Dinkes Lamsel Siapkan 11 Posko Medis 24 Jam
Menyaring Amanat di Balik Absennya Sang Bupati: Refleksi 2025 di Lapangan Korpri
Exploring Bandung’s Natural Wonders: From Volcanic Landscapes to Majestic Waterfall

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:49 WIB

Seolah Sengaja Ciptakan Manager Kopdes yang Ngang-ngong

Kamis, 5 Februari 2026 - 21:06 WIB

PDIP Tega Menumbalkan dan Jebak Kadernya Sendiri

Rabu, 4 Februari 2026 - 12:40 WIB

Pelantikan Pejabat di Terminal Pasar Impres Kalianda

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:49 WIB

Melihat Dominasi Sekda Supriyanto Ketika Meresmikan Kampung Nelayan

Kamis, 15 Januari 2026 - 02:33 WIB

Edwin Apriandi Terpilih Aklamasi Nakhodai PWI Lamsel Periode 2026–2029

Berita Terbaru

Nasional

Seolah Sengaja Ciptakan Manager Kopdes yang Ngang-ngong

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:49 WIB

Pemilik, dokter, dan staf di Klinik Kalianda Sehat ketika pose bersama. Ist/KaliandaPost

Hukum dan Kriminal

Ada Dugaan Malpraktik di Klinik Kalianda Sehat

Selasa, 28 Apr 2026 - 22:27 WIB

Pemerintahan

12 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas Lamsel Dilantik

Rabu, 15 Apr 2026 - 17:42 WIB

Pemerintahan

Setahun Memimpin Lamsel Egi-Syaiful Didemo Mahasiswa

Selasa, 24 Feb 2026 - 11:14 WIB

Ekonomi dan UMKM

Bupati Egi Paparkan Agroeduwisata di Desa Trimomukti

Senin, 16 Feb 2026 - 20:52 WIB